dinny.faiqah10's blog

mencari dan memberi yang terbaik

inspirasi hidup orang lain

Author: dinny.faiqah10
09 13th, 2010

Nama               : Dinny Faiqah

Nim                 : E34100040

Laskar             : 21

Kisah seorang pengusaha & Malaikat

Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke, sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Disaat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia Roh seorang Malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya. Malaikat memulai pembicaraan, “kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!

“Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang … ” kata si pengusaha ini dengan yakinnya. Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.

Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali merngunjunginya; dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, “apakah besok pagi aku sudah pulih? pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit”. Dengan lembut si Malaikat berkata, “anakku, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktu mu tinggal 60 menit lagi, rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu”.

Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si Malaikat menunjukkan layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka”. Kata Malaikat, “aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua? itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu”

Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh,” Tuhan, aku tau kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tau dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tau dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu, tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah dan hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri.” Dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat”.

Melihat peristiwa itu, tanpa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha ini . . . timbul penyesalan bahwa selama ini dia bukanlah suami yang baik dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya, dan malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.

Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini, penyesalan yang luar biasa tapi waktunya sudah terlambat! tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang!

Dengan setengah bergumam dia bertanya, “apakah diantara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?” Jawab si Malaikat,'” ada beberapa yang berdoa buatmu tapi mereka tidak tulus, bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini, itu semua karena selama ini kamu arogant, egois dan bukanlah atasan yang baik, bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah”. Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia, tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam. Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, “anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu ! ! kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00”. Dengan terheran-heran dan tidak percaya,si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu. Bukankah itu Panti Asuhan ? kata si pengusaha pelan. Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tau tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri.

Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di Koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU, setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu.

Doa sangat besar kuasanya, tak jarang kita malas, tidak punya waktu, tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain.

Ketika kita mengingat seorang sahabat lama / keluarga, kita pikir itu hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia, mungkin saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.

Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan baru dan kita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi.



cerita inspirasi laskar 21

Author: dinny.faiqah10
09 13th, 2010

LASKAR INSPIRASI 47

Nama               : Dinny Faiqah

Nim                 : E3410040

Lakar               : 21

Cerita inspirasi dengan diri sendiri

Ini adalah kejadian di lingkungan keluarga saya sendiri yaitu pada tahun kemarin. Ketika Ayah saya mulai kambuh dengan penyakitnya yang di sekitar perut. Awalnya penyakit itu terasa seperti penyakit maagh biasa, akan tetapi semakin lama Ayah saya mulai mengeluh kesakitan akan perutnya. Hingga suatu hari ketika saya dalam perjalanan pulang sekolah, saya dikabari oleh mama saya, kalau Ayah dilarikan ke rumah sakit di Jakarta yang bernama Sari Asih. Disitu saya kaget, karena kenapa bisa sampai seperti ini. Di rumah keadaan sudah sepi dan saya bergegas pergi menyusul bersama tante saya. Ayah dirawat kurang lebih hingga seminggu.

Lama kelamaan kondisi Ayah semakin pulih. Hingga ketika Lebaran Idul Fitri setelah ia berkhotbah di suatu musholah di dekat rumah kami, penyakit Ayah ternyata kambuh lagi. Padahal setiap harinya ia selalu minum obat yang disarankan oleh dokter tetapi tetap saja penyakitnya kambuh terus.

Beberapa minggu kemudian ketika tengah malam, ia jatuh di kamar mandi dan ketika itu juga langsung dilarikan ke rumah sakit lagi. Padahal minggu depannya orangtua saya ingin menunaikan ibadah haji.

Dengan sabar dan penuh perhatian, mama slalu menemani Ayah yang sedang terbaring sakit di sana. Pada hari jumatnya Ayah memutuskan untuk pulang paksa, karena esok harinya ia dan mama ingin berangkat haji. Padahal mama ingin menunda keberangkat haji untuk tahun depan karena kondisi ayah yang belum benar-benar pulih.

Pada hari keberangkatan, dengan penuh keyakinan mereka berangkat. Saya dan keluarga sangat khawatir akan kondisi tersebut, kami takut di negeri orang nanti mereka kenapa-kenapa.

Dalam mereka ibadah, mama tak lupa untuk menelpon kami yang ada di Indonesia, dan selalu melapor keadaan di sana, terutama keadaan Ayah. Kami taunya mereka di sana baik-baik saja, tetapi nyatanya di sana Ayah sering keluar masuk rumah sakit yang ada di sana. Mama sengaja menutupi hal tersebut, agar kami yang di tanah air tidak khawatir. Disana mama selalu setia untuk menemani Ayah. Walaupun di negeri orang mama selalu berani, tidak takut untuk pergi sendiri. Sebelum kepulangan mereka, Ayah masi saja dirawat. Mama menyuruh dokter disana untuk memulangkan Ayah barengan dengan ia. Padahal Ayah belum boleh pulang. Hingga Mama disuruh menandatangani surat perjanjian yang berisi bahawa pihak rumah sakit tidak bisa bertanggungjawab kalau nantinya, dijalan terjadi sesuatu pada Ayah.

Sesampainya di tamah air, saya sangat haru melihat Ayah menaiki kursi roda yang didorong oleh mama. Hingga paras Ayah sangat berbeda seperti biasanya. Setelah pulang, Ayah dibawa lagi ke rumah sakit yang sekarang berbeda dengan sebelumnya yakni di rumah sakit Cipto Mangunkusumo. Dengan gesit, sabar dan tiada lelah mama terus mendampingi ayah. Disana Ayah dirawat hampir sebulan lamanya.

Pada saat itu keluarga saya seperti benar-benar jatuh, karena kami hampir tidak ada biaya lagi untuk berobat dan ditambah lagi saya yang diharuskan untuk membayar kuliah. Hingga pada akhirnya, orangtua saya memutuskan untuk menjual mobil pribadi kami untuk memenuhi semua biaya yang dibutuhkan, karena tidak ada pilihan lain selain itu. Ayah menjadi tulang punggung di keluarga kami. Saya hampir tidak bisa menerima kenyataan ini. Kami semua sekeluarga selalu berusaha penuh untuk mencari alternative pengobatan agar Ayag cepat sembuh, walau harganya terhitung mahal.

Sekarang kehidupan kami telah berubah, tidak seperti dahulu. Mama yang selalu setia, sabar mengurusi Ayah hingga sekarang. Kami semua berusaha tegar dengan cobaan ini dan mulai membiasakan keadaan seperti ini. Dari sini saya mendapat pelajaran bahwa sebagai manusia betapa pentingnya untuk bersabar, tegar dan  tidak cepat putus asa.

Hingga saat ini, perlahan-lahan keadaan Ayah mulai kembali normal, walau kadang punyakitnya suka kambuh dan kehidupan kami pun beranjak mulai normal seperti sediakala.



salutt!!!

Author: dinny.faiqah10
07 27th, 2010

t’es regarde ma blog